Siaran Pers

ELEKTRIFIKASI UNTUK WILAYAH TERPENCIL, PERBATASAN DAN KEPULAUAN DENGAN ENERGI TERBARUKAN: PELAJARAN DARI IMPLEMENTASI PROGRAM SUMBA ICONIC ISLAND DI PULAU SUMBA oleh Gus Firman

Energi Terbarukan
28-01-2021 , Posted - Administrator

Indonesia adalah negara kepulauan, dengan wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang besar. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi Pemerintah, terutama dalam melakukan upaya menciptakan pemerataan pembangunan melalui penyediaan akses energi bagi masyarakat khususnya di wilayah terpencil, perbatasan, dan kepulauan. Salah satu indikator utama yang digunakan pemerintah untuk mengukur jangkauan penyediaan energi di Indonesia adalah rasio elektrifikasi. Menurut definisi BPS, rasio elektrifikasi didefinisikan sebagai perbandingan jumlah pelanggan rumah tangga yang memiliki sumber penerangan baik dari listrik PLN maupun listrik non-PLN dengan total jumlah rumah tangga.

Dari data yang dirilis ESDM melalui portal resminya, hingga November 2020 rasio elektrifikasi Indonesia sudah mencapai 99,15 persen. Meski capaian ini terlihat besar, indikator yang digunakan tidak secara mendalam melihat kualitas penyediaan listrik yang diterima oleh masyarakat. Mengambil contoh di wilayah Indonesia Timur, masih banyak masyarakat yang walaupun telah mendapatkan akses listrik, namun kualitas listrik yang diterima bertegangan rendah dan hanya tersedia beberapa jam. Jika dilihat dari aspek pemerataan, masih terdapat 5 provinsi di Indonesia dengan rasio elektrifikasi dibawah 95% yakni Papua, Maluku, Sulawesi Barat, dan Kalimantan Tengah. Provinsi NTT sendiri memiliki rasio elektrifikasi dibawah 90%.  Masyarakat yang belum mendapatkan akses listrik umumnya berada di wilayah yang jauh dari jaringan listrik nasional, tersebar di wilayah yang terpencil, atau tinggal di pulau-pulau berukuran kecil hingga sedang. Padahal, justru di wilayah-wilayah ini, ketahanan energi menjadi sangat vital karena berkaitan pula dengan ketahanan negara terutama di daerah perbatasan.

Untuk pemenuhan akses energi bagi masyarakat saat ini, khususnya yang terdapat di wilayah terpencil, secara umum, pemerintah menggunakan tiga strategi utama yakni perluasan jaringan PLN, penggunaan jaringan terisolasi (isolated grid), dan pendistribusian Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE). Strategi-strategi ini tentu memiliki keunggulan dan tantangan yang berbeda-beda. Kondisi geografis Indonesia yang menantang, upaya perluasan jaringan PLN, misalnya, banyak menemui kendala seperti lamanya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, konsumsi energi yang rendah, dan biaya investasi yang besar. Jaringan terisolasi seperti pembangkit mini dan micro-grid terutama yang berbasis generator diesel juga memerlukan biaya tinggi akibat biaya logistik dari bahan bakar yang signifikan. Pendistribusian LTSHE disisi lain, juga masih bersifat solusi jangka pendek dan sementara (pra-elektrifikasi) karena hanya dapat menyediakan listrik yang terbatas untuk penerangan dasar dengan estimasi umur pakai selama 1-3 tahun saja.